Hari ini adalah Idul Fitri, hari yang dinanti nanti. Semua pasti senang merayakannya. berkumpul dengan keluarga dan handai tolan. Berkunjung ke banyak kerabat sanak famili sampai teman-teman berkumpul dengan segala bentuk model caranya. Seharian keliling dari satu rumah ke rumah yang lain, menikmati suguhan yang beragam. Mulai biskuit, roti kering, kue basahan sampai makan siang atau malam dengan nasi dan sebagainya. Belum lagi minuman yang disediakan, mulai air putih, kopi, teh, hingga sirup atau soft drink.
Semua bisa dipastikan habis kita lahap, sebab kalau tidak (minimal) mencicipi suguhan saat kita bertamu atau bersilaturahmi lebaran, maka itu ada yang menganggap tidak sopan. Maka selain rakus atau memang lapar, tentu diantara kita juga menghormati tuan rumah apabila menghabiskan suguhan yang disajikan.
Berbagai model dan bentuk serta rasa yang kita nikmati di hari pertama lebaran ini, semua bercampur aduk didalam usus. Bayangkan setelah sebulan berpuasa, kemudian di hari pertama lebaran perut ini langsung diisi berbagai menu santapan yang ndak karuan bentuk dan rasanya (bukan berarti tidak enak lho). Semua dicampur dan diaduk dalam perut seperti kita membuat juice buah buahan.
Akibatnya apa?.. Ya sudah tentu bagi yang biasa rutin dan disiplin untuk makanan selama bulan Ramadhan akan kaget. Maka jambanlah pos check point yang akan dituju. Bisa disegala momen dan waktu. Bisa saat sedang dirumah kerabat, kalau tidak tahan bisa ke jamban umum (kalau ketemu) atau ditahan untuk disetorkan sesampainya dirumah. Dan mungkinkah ada yang sampai tidak kuat dan buang air di pinggir kali? Ah, tidak menutup kemungkinan. hehehe.
Yah, inilah lebaran yang bagi sebagian orang adalah hari ‘balas dendam’ untuk makanan. (jw)
Ditulis dalam intermezo | Bertanda idul fitri, jamban, lebaran, makanan, minuman, puasa | 2 Komentar »
30 September 2008 oleh jewe
Barusan ada temen kirim sms yang isinya :
Selamat lebaran, cepat mudik dan jangan kembali lagi!.
Dan berlanjut sms dari temen yang lainnya :
Selamat Idul Fitri, kalau pulang kampung kembalinya jangan bawa teman ya, salam buat keluarga.
Aneh? Mungkin aneh, mungkin tidak, sebab aku jarang terima sms yang seperti ini. Tapi aku nanggepinya cuma sekedar bercanda. Namun kalimat sederhana itu tampaknya seperti kritikan buat yang lainnya. Kenapa?. Seperti kita tahu, kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, Jogja, dsb setiap lebaran tampak sepi dan lengang. Karena banyak penduduknya yang pergi ke kampung halaman. Pembangunan yang tidak merata menyebabkan orang berduyun-duyun pergi ke satu titik yang sama, yaitu kota besar untuk mencari kerja. Sebab di tempat asalnya lahan pekerjaan sangat sedikit dan kalaupun ada hasilnya kurang memuaskan.
Kalimat dalam sms diatas memang bisa berarti sindiran bagi pendatang di kota besar. Penduduk asli kota besar (mungkin) ada yang tidak suka dengan pendatang dengan berbagai alasannya. Meskipun sebenarnya mereka juga membutuhkan peran pendatang untuk semakin menambah gemerlapnya kota mereka, untuk menjalankan roda perekonomian disana, untuk meringankan pekerjaan mereka. Yah, inilah realita yang ada. Lebaran – mudik – kembali – bawa teman – bawa tetangga – bawa kambing – bawa masalah, begitu seterusnya tidak pernah usai selama lapangan kerja tidak merata dan perekonomian semakin modar.
Tapi lama kelamaan aku merasa aneh dengan sms ini. Perasaan banyak yang memukul rata kalau semua yang tinggal di kota besar adalah pendatang. Minimal orang tuanya adalah pendatang dan mereka ikut dibawa merantau. Dan sms kedua temanku ini meski aneh namun masih bisa bikin aku ketawa. Bukankah aku tidak pernah mengenal yang namanya mudik?. Lha wong dari bayi sampai cari makan dan buang hajat dijamban tetap berada dikota yang sama?
. Makannya boss, kalau berteman jangan asal saja, selidiki pula riwayat hidupnya, hahaha. Dalam kesempatan ini saya turut mengucapkan “Selamat Idul Fitri 1429 H”. Mudah-mudahan banyak orang yang tobat. (jw)
Ditulis dalam indonesiahehe, intermezo, opini | Bertanda aneh, idul fitri, kota, lebaran, mudik, sms | 2 Komentar »
28 September 2008 oleh jewe
Terhitung dua hari kedepan sejak tulisan ini diketik, kita akan menyambut hari besar Idul Fitri yang insya Allah jatuh pada tanggal 1 Oktober. Benar benar tidak terasa ya, seperti baru kemarin kita masuk di bulan Ramadhan, begitu cepat waktu ini berjalan. Insya Allah di bulan Ramadhan ini kita berhasil menyucikan diri dari segala dosa yang pernah diperbuat.
Ibarat jamban, diri kita setiap hari diisi dengan sesuatu yang bisa baik dan bisa pula buruk. Semua kebaikan meninggalkan bau yang harum, dan kotoran yang dibuang selalu kita siram dengan amal kebaikan seperti sholat. Kalau amal kebaikannya dilakukan dengan ikhlas, insya Allah kotoran itu cepat turun dan membuat diri kita bersih.
Di penghujung bulan Ramadhan ini jamban jamban di hati kita saya asumsikan sudah tampak bersih dan suci kembali seperti baru. Kotoran yang menempel sudah disikat habis, kerak kerak sudah tiada, parfum telah disiramkan kedalamnya. Pokoknya bersih. Nah, apakah setelah Ramadhan usai, jamban dihati kita akan dikotori lagi tanpa pernah berusaha menjaganya tetap bersih?. (jw)
Ditulis dalam intermezo | Bertanda bersih, jamban, kotor, ramadhan, suci | 1 Komentar »
27 September 2008 oleh jewe
Pernahkah kita berlama-lama diatas jamban?, tentu pernah. Entah karena memang perut sakit dan banyak yang harus dibuang, atau keasyikan sebab bawa koran atau bahan bacaan lainnya. Ya, baca koran atau majalah sambil setor memang banyak yang melakukan. Kadang berpikiran sayang waktu dibuang percuma hanya untuk menatap lantai atau bak mandi. Mending dibuat baca-baca jadi lebih berguna.
Namun proses membaca sepertinya kalah cepat dibanding proses menyetor. Ada berita menarik yang harus dituntaskan membacanya menyebabkan kita berlama-lama di atas jamban. Beruntung kalau tidak ada yang antri didepan WC, kalau ada yang antri bisa digedor-gedor pintunya dan membuat konsentrasi kita buyar.
Namun selain membaca, kadang yang tak kalah mengasikkan adalah membawa handphone saat sedang setor. Biasanya ada yang dipakai buat sms-an, ada juga yang dipakai untuk main games. Namun yang mesti diwaspadai adalah kalau kita bawa hape yang bisa buat muter film. Kalau isinya film porno alias blue film, maka bukan setor diatas jamban lagi ceritanya, melainkan olahraga tangan dengan sabun. Dan mengakibatkan capek kelelahan dan perasaan ingin mengulanginya lagi. (jw)
Ditulis dalam intermezo | Bertanda baca, jamban, koran, majalah, porno | Leave a Comment »