Hari lebaran, hari Idul Fitri, hari raya umat Islam sedunia. Hari yang ditunggu tunggu setelah sebulan berpuasa di Ramadhan. Hari yang dinanti nanti untuk berkumpul dengan keluarga atau bertemu dengan kawan kawan yang telah lama terpisahkan. Ya, dihari lebaran kita disini terbiasa untuk berkumpul dengan keluarga atau handai taulan. Sebuah acara yang biasanya dikemas agar waktunya pas supaya seluruhnya bisa berkumpul di satu tempat dalam waktu yang sama (tentu saja diluar kunjung mengunjungi rumah secara pribadi). Pada acara silaturahmi semacam ini biasanya dilengkapi dengan hidangan yang menarik.
Gembira sebab bertemu dengan keluarga yang lama tidak berjumpa, untuk melepas rindu atau sekedar pamer barang baru. Bersedih sebab salah satu kerabat telah mendahului kita. Semuanya terangkum dalam satu suasana yang bisa dikatakan bahagia dan meriah.
Namun ada satu poin yang biasanya kurang kita sadari namun selalu sadar dilakukan. Yaitu pada saat kita berkumpul, tentu mudah sekali untuk kita bergosip. Membicarakan orang lain baik yang ada ditempat lain, atau bahkan ada diruangan yang sama!. Benar, bergosip adalah sesuatu yang paling mudah dan menyenangkan buat sebagian orang. Dan momen berkumpul di hari lebaran adalah momen yang cukup pas menurut mereka. Tukang gosip atau tukang rasan rasan itu muncul dengan sendirinya tanpa perlu diajari. Topik pembahasannya bisa bermacam macam, dan ujungnya bisa bisa menimbulkan fitnah.
Seperti bergosip tentang pakaian lebaran si A yang harganya sekian juta, lalu tukang gosip itu membahas dari mana dapat uangnya, sedangkan si A masih berhutang pada si B. Lalu muncul analisa bahwa baju si A itu hadiah dari si C. Sedangkan si C ketika dimintai sumbangan mengatakan keberatan. Lalu si D dikabarkan meminjam uang si B untuk membayar hutang pada si C, dan seterusnya dan seterusnya. Wah pokoke mbulet dan ndak penting.
Nah, hal-hal semacam ini berpotensi menimbulkan fitnah, dan itu kerap terjadi disaat kita berkumpul kapan saja termasuk di hari raya. Sesuatu omongan yang tidak ada gunanya dan tidak ada pentingnya untuk dibahas. Bikin capek saja, namun manusia masih suka melakukannya. Momen berkumpul di hari lebaran menjadi kotor dengan ulah kita sendiri. Susah rasanya, padahal setelah sebulan berpuasa kita berharap hati ini suci kembali, namun disaat lebaran, mulailah kita mengotori diri sendiri dengan gosip gosip yang tidak penting semacam itu. Hmmm. Inilah manusia cap jamban. (jw)