Siang tadi ada ular di pekarangan rumah mertua saya. Seperti biasa saya bak seorang jagoan segera mengambil tongkat kayu dan siap membunuh ular tersebut. Sebenarnya diusir sudah cukup, namun saya sebagai seorang bapak tentu kuatir. Sebab anak yang masih balita sering bermain di pekarangan tempat ular itu berada.
Dengan gaya seperti superhero, saya sudah berhadapan dengan si ular yang panjangnya kurang lebih satu meter dan warnanya belang belang hitam putih. Saya yakin berbisa dan berbahaya, dari gerakannya ular itu lincah dan tampak agresif.
Belum sempat mengayunkan tongkat, dari dalam rumah ibu mertua saya berteriak memanggil saya. Saya yang dalam posisi siap menjadi kaget, dan ular itu juga sempat terhentak dan mengangkat kepalanya tinggi tinggi, seperti menantang saya. Kembali panggilan dari dalam rumah muncul. Mengapa pikirku, dan kuhampiri beliau.
“Kenapa Bu?”, tanyaku.
“Jangan kamu bunuh ular itu!“, jawabnya.
“Lho kenapa? bukankah berbahaya kalau dibiarkan?”
“Biar saja sampai dia pergi sendiri. Istrimu kan sedang hamil. Tabu membunuh ular. Nanti ada apa apa dengan janinnya!”, begitu kalimat yang diucapkannya.
Dengan ‘terpaksa’ saya menurutinya. Lalu saya kembali keluar menuju pekarangan rumah, ternyata ular iu sudah tidak ada, ular itu menghilang. Sudah dicari kesana dan kemari tapi tidak ketemu. Hmm, ya mungkin sudah nasibnya selamat dari tongkat kayuku.
Yang jadi pertanyaan disini adalah, benarkan membunuh ular disaat istri sedang hamil itu ada efek sampingnya?. Pernyataan ini sudah kesekian kalinya aku dengar. Sesuatu yang tidak masuk diakal tetapi masih banyak yang mempercayainya. Dan dulu waktu istri saya hamil anak pertama, diam-diam saya sempat membunuh ular yang masuk ke garasi mobil. Tidak ada yang tahu kejadian itu. Dan ketika sang anak pertama lahir, memang ada sedikit keanehan pada anak saya, yaitu kulitnya agak kasar meskipun sekarang sudah halus dan normal seperi teman teman lainnya. Pada waktu anak pertama lahir dan kondisinya begitu, banyak kerabat saya terutama yang sudah tua menanyakan pada saya apakah pernah membunuh ular saat istri sedang hamil. Dan saya bilang pernah, lalu mereka bilang kalau kondisi bayi saya itu akibat dari perbuatan saya membunuh ular saat istri masih hamil.
Saya tidak mengerti hubungan membunuh ular dan kehamilan. Sampai sekarang saya tidak pernah percaya dengan yang namanya mitos atau tahayul dan segala kerabat moyangnya. Dan saya tidak pernah mengerti penjelasan logis dari kejadian itu. Yang saya tahu adalah kalau ada sesuatu yang terjadi, bukankah itu sudah yang digariskan oleh yang kuasa. Hmm.. entahlah. Saya tidak pernah mau mempercayai mitos atau dongengan seperti ini. Bagi saya mitos-mitos itu masih cap Jamban. Kalaupun saya melawan dan yang dikatakan itu terjadi, saya tak lebih menganggapnya sebagai takdir, bukan yang lain. Bagaimana dengan kalian?. (jw)
wah, mungkin bapak dijadiin idola para ular. masa tiap hamil didatengin ular terus.
hamil g hamil bunuh makhluk hidup g baek pak.
Mungkin takhayul itu karena “the fall of man”, kejatuhan Adam dan Hawa yg ada sangkut-pautnya dengan si ular.
@ mahma.
wah idola para uler hehehe.. iya ya, bunuh membunuh memang gak baik. laen kali saya usahakan untuk mengusir saja. atau kalau bisa ditangkap dan dibuang jauh2.
@ hell-da
hehehe mungkin saja. kan orang2 sini masih banyak yg percaya takhayul. seperti perawan gak boleh sapu rumah di malam hari, dsb… sudah tradisi katanya.
cuma saya berusaha tidak mempercayai semua itu. kalaupun menuruti saran mertua, itu semata karena saya menghormati beliau.