Tahun tahun belakangan ini kita sering dikejutkan dengan terungkapnya berbagai kasus kasus korupsi. Baik itu yang dilakukan oleh pejabat kelas coro sampai yang kelas kakap, baik pejabat yang terhormat sampai yang menjabat profesi yang dibenci. Modusnya tentu saja mengincar uang. Ada yang menyuap dan ada yang disuap, ada yang mencuri dan ada juga yang melakukan dengan dalih untuk ini dan itu, namun semuanya tidak ada penjelasan yang jelas dan detail. Serba samar begitu. Namun ini semua hanya satu kata yaitu, KORUPSI.
Maling maling itu kebanyakan adalah orang orang yang duduk di pemerintahan. Jadi pejabat itu harus kuat mental dan kuat iman. Sebab kursi yang didudukinya selalu basah dan guampang sekali untuk mendapatkan uang untuk keperluan pribadi. Apalagi sudah didepan mata tinggal comot saja.
Tapi yang namanya korupsi di negara ini sudah mendarah daging. Kata orang korupsi itu juga menjadi salah satu mata pelajaran dalam hidup bersosialisasi di Indonesia. Lihat saja contoh paling gampang adalah saat ngurus KTP, di kelurahan kita sering dimintai sumbangan sukarela, dan itu tidak ada bukti tertulisnya atau tanda terimanya. Apakah itu bukan bibit-bibit korupsi. Siapa yang tahu uang itu akan kemana perginya, apakah masuk kas kelurahan atau masuk kantong pegawai kelurahan yang malas malas itu. Itu baru yang sepele, bagaimana untuk ngurus sesuatu yang serius? mikir aja sendiri.
Dan sayangnya aku yakin para maling berdasi (untuk cowok) atau maling ber be-ha (untuk cewek) atau maling ber susu dari kain (untuk bencong – adakah?) yang ketangkep itu hanya segelintir kecil saja. Mungkin mereka cuma upil yang nongol diujung lubang hidung, jadi masih gampang ngambilnya. Nah yang besar masih nyaman nempel di dalam. Atau bahkan masih ada yang lebih raksasa lagi, yang masih nongkrong didalam usus terlindungi dan tidak tampak. Semoga saja baik yang kecil maupun yang raksasa bisa segera disedot dan dibuang kedalam jamban.
Yang jelas, hukuman buat koruptor disini masih terlalu ringan. Bayangkan saja si Ayin (tante pencuri yang dekat dengan banyak pejabat itu) setelah ketangkap tangan menyuap jaksa Urip (jaksa gendeng bertampang bloon tukang korupsi) cuma dihukum 5 tahun penjara. Sudah gitu dalam persidangan dia masih sempet-sempetnya merias tubuh montoknya (yang seperti babi itu) bak mau pergi kondangan. Sedangkan si Urip bloon cuma dihukum 20 tahun penjara, dan aku yakin bakal dapet bonus potongan setiap lebaran atau hari kemerdekaan. Ujung ujungnya cuma ditahan sekian tahun saja. Mestinya penyuap dan penerima suap itu dihukum MATI didepan publik. Supaya yang lainnya ndak berani ikutan maik kotor seperti mereka.
Yah, mudah-mudahan saja di bulan puasa ini para koruptor itu tobat semua sehingga bangsa ini tidak kena kutukan terus-menerus akibat ulah warganya yang tidak pernah bersyukur macam koruptor itu. Cuman aku ndak yakin mereka akan tobat, soalnya orang model jamban kayak koruptor ini sudah tidak punya hati nurani lagi. Tahunya ya uang saja. Maka dari itu mestinya mereka kalau ketangkep yang dihukum MATI saja. Dan bangkai koruptor itu dibuang di jamban. (jw)